The rise of information published on the web has fuelled interest in sentiment analysis. This research area is intended to help people discover valuable information from large amount of unstructured data on the web. In recent years, commercially and free hardened solutions to this problem have emerged. One of the free solutions for sentiment analysis is OpenAmplify. OpenAmplify is a web service that brings human understanding to content. Natural Language Processing and text analysis technology power it.
This “mini research” tries to present how the OpenAmplify web service work. From the simple demo application, we get a list of “topics” and “actions” with ratings for polarity (positive, negative, or neutral). The style analysis (”slang” and “flamboyance”) might be fun, but we have a hard time imagining real uses for it. The demographics data and intentions (what are people doing or intend to do), on the other hand, are very useful.
Key words: sentiment analysis, web service, OpenAmplify
Jenis kendaran yang cukup populer di Jepang sepertinya adalah sepeda ‘onthel’. Sepeda digunakan hampir oleh semua kalangan. Mulai dari anak sekolah, pegawai, dosen, profesor, ibu rumah tangga sampai dengan para peragawati jalanan (karena mereka berdandan cukup rapi, tetapi tetep naik sepeda).
Para pejalan kaki dan pesepeda mendapat tempat yang cukup istimewa di Jepang, karena mereka akan diberikan prioritas oleh pengguna jalan lain (tidak menjadi kaum minoritas kayak di tempat kita).
Untuk menghilangkan kejenuhan selama di Jepang, saya sempatkan untuk main ke Fukuoka Tower yang merupakan bangunan tertinggi di Fukuoka. Dari tower ini kita dapat melihat Kota Fukuoka yang nampak rapi dan tertata.
LBS secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah layanan yang berbasiskan pada lokasi. Terdapat beberapa macam teknik posisi di LBS, dengan perbedaan requirement dari tiap – tiap infrastruktur.Satelite navigasi, mobile communication, jaringan wireless dan kemunculan teknologi RFID yang akan digunakan. Tiap metode mempunyai keterbatasan. Contoh : Cell ID murah untuk di implementasikan tetapi belum tentu sesuai diterapkan pada aplikasi lain. Sedangkan GPS mempunyai tingkat keakuratan yang tinggi tetapi tidak cocok apabila digunakan didalam ruangan, karena memerlukan sinyal. Untuk menyelesaiakan keterbatasan ini , banyak LBTs menggabungkan teknologi posisi. Banyaknya sistem komunikasi dapat digunakann untuk mengirim informasi, dimana masing – masing mampunyai kemampuan yang berbeda – beda.
In the process of development of web-basewd application and mobile application, several common problems occure very frequently. For example data access, the setting ofuser Interface template, data representation in the specific format, configuration and so on. Other problems are system architecture and deployment standard. Ronaldo (2006) suggests, one possible solution is by using design patterns and application frameworks.
Web-service technology gives possiblility to connect among systems independent from the technology implemented for every system. Furthermore,web-based mapping technology, WMS (Web Map Services) can be used to communicate between the system and to produce efficient vector-based map data format. Example for this isSVGT (Scalable Vector Graphics Tiny), part of SVG (Scalable Vector Graphics),usually implemented in mobile device application (Priyanta, 2006). Hossein Mohammadi (2003) in his publication(Developing Wireless GIS : Using Java and XML Technologies),describes mobile mapping application which implement XML technology fortransferingmap data from server to client. Map data in XML format received by client will be parsed by J2ME into a map image and deliver the map tothe client (mobile device).
By coincident, there is a simultant technology development of SVG and SVGT withmobile device which support Java and SVG, SVG viewer dan editor. The main issue is how to provide technology (Web Map Service) and infrastructurein order to develop and deploy map data onto mobile device applyingmobile phone mapping using spatial data standart format (Zaslavsky,2005). Mobile map service application will be optimum if integrated with Location Based Service (LBS). Hawking et all (2005), presents several menthology to locate mobile device, for example teknologi GPS chnologyt, mobile positioning system, RFID and semacode. LBS application domain is Maps and the way finding (Google Local & Mobile, Mappoint), Tracking (Personnel/fleet/equipment management), Social mobile apps (IM) dan Location-specific content (Locate services, E-tourist Guide).
The development of information and communiation technology frmom hardware (mobile device, computer, GPS), software, network and data communication create a new demand in community to get information service. The need of information of the citizen triggers Local-Government of
YogyakartaMunicipality to provide infrastructure and technology to improvethe quality of information serveices to the community. Mobile information service can be a good and proper solution due to the status of Yogyakarta as Tourism, Education, and Cultural city. This is also harmonized with the Vision of eLocal-Government of
YogyakartaMunicipality.
Data mining (DM) yang juga dikenal sebagai Knowledge Discovery (Frawley et al., 1992) , merupakan salah satu bidang yang berkembang pesat karena besarnya kebutuhan akan nilai tambah dari database skala besar yang makin banyak terakumulasi sejalan dengan pertumbuhan teknologi informasi. Secara umum, data mining dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian proses untuk menggali nilai tambah berupa ilmu pengetahuan yang selama ini tidak diketahui secara manual dari suatu kumpulan data (Pramudiono, 2003).
Web mining merupakan penerapan teknik data mining terhadap web dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan informasi lebih dari dalam web. Webmining dapat dikategorikan ke dalam tiga ruang lingkup yang berbeda, yaitu web content mining, web structure mining dan web usage mining (Srivastava et al., 2000).
GPS adalah Sistem radio navigasi dan penentuana posisi menggunakan satelit yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. GPS didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan 3D serta informasi mengenai waktu secara kontinyu, dan dapat digunakan oleh banyak orang sekaligus. Saat inipun GPS mulai banyak diaplikasikan di Indonesia, terutama terkait dengan aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi.
GPS terdiri dari 3 segmen, yaitu :
a. Segmen angkasa atau space segmen = segmen satelit
GPS = Stasiun radio di angkasa yang dilengkapi dengan antenna-antena untuk mengirim dan menerima sinyal-sinyal gelombang. Sinyal-sinyal itu selanjutnya diterima oleh receiver GPS dipermukaan bumi dan digunakan untuk penentuan posisi, kecepatan maupun waktu. Selain itu satelit juga dilengkapi dengan peralatan untuk mengontrol tingkah laku sateil, serta sensor-sensor untuk mendeteksi peledakan nuklir dan lokasinya.
b. Segmen Sistem Kontrol :berfungsi untuk mengontrol dan memantau operasional satelit dan memastikan bahwa satelit berfungsi sebagaiman mestinya .
Fungsi ini mencakup beberapa tugas :
- Menjaga agar semua satelit masing-masing berada pada posisi orbit yang seharusnya (station keeping).
- Memantau dan menjaga kesehatan dari semua sub system satelit.
- Memantau panel matahari satelit, level daya baterai.
- Menentukan dan menjaga waktu system GPS.
c. Segmen Pengguna
Segmen pengguna terdiri dari para pengguna satelit GPS, baik di darat, laut maupun di angkasa . Alat penerima sinyal (receiver) diperlukan untuk menerima dan memperoses sinyal-sinyal dari satelit GPS untuk digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan maupun waktu.
Komponen utama dari receiver GPS adalah :
1. Antena dengan pre-amplifeier ;
2. Bagian RF (Radio Frequency) dengan pengidentifikasi sinyal dan pemroses sinyal;
3. pemroses mikro untuk pengontrol receiver, data sampling, dan pemroses data
4. Osilator presesi
5. Catu daya
6. Unit perintah dan tampilan
7. memori serta perekam data
Algoritma genetika dan jaringan syaraf tiruan telah banyak teruji sebagai alat bantu pemecah masalah yang handal. Dalam jaringan syaraf tiruan, pemilihan arsitektur jaringan yang optimal sering kali menjadi kunci sukses proses pembelajaran. Algoritma genetika merupakan metode optimisasi pencarian global, berdasarkan pada prinsip genetik seperti seleksi, perkawinan silang, dan mutasi.
Pada penelitian ini akan digunakan algoritma genetik untuk mencari arsitektur optimal jaringan saraf tiruan untuk prediksi nilai tukar uang Euro/USD. Jaringan syaraf tiruan Feedforward Backpropagation digunakan untuk memprediksi data nilai tukar EUR/USD dengan time frame 30 menit. Performa arsitekur jaringan diuji dengan Mean Absolut Error (MAE) yang merupakan selisih dari nilai aktual dan nilai prediksi jaringan. Semakin kecil nilai MAE semakin optimal arsitektur jaringan tersebut. Algoritma genetik mencari arsitektur (kombinasi hidden units dan neuron) terbaik dengan proses genetik seperti seleksi, kawin silang, dan mutasi. Masing-masing arsitektur akan dilatih kemudian diuji sehingga didapatkan nilai MAE.
Dengan parameter algoritma genetika yang berupa ukuran populasi, jumlah generasi, probabilitas kawin silang, probabilitas mutasi, probabilitas reproduksi dan metode seleksi terbukti bahwa arsitektur jaringan syaraf tiruan dapat dioptimasi menggunakan algoritma genetika. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa arsitektur dengan satu hidden unit lebih optimal dibandingkan dengan arsitektur yang menggunakan lebih dari satu hidden unit. Dari hasil pengujian untuk jaringan saraf tiruan prediksi nilai tukar mata uang Euro/USD didapatkan arsitektur optimal 8-2-1.
Kata kunci : Algoritma Genetita, Jaringan Syaraf Tiruan, Arsitektur, Optimisasi, Mean Absolut Error (MAE)
Teknologi informasi geografi berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir ini. Sekarang ini, WMS (Web Map Services) tidak hanya dapat menghasilkan gambar raster tetapi juga gambar vektor. Contohnya adalah SVGT (Scalable Vector Graphics Tiny) yang merupakan bagian dari SVG (Scalable Vector Graphics) yang digunakan pada piranti mobile device. Mahalnya biaya komunikasi antara handheld device dengan jaringan internet melalui GPRS (Global Pocket Radio System) menimbulkan sebuah masalah dalam penerapan aplikasi mobile mapping. Untuk mengeliminasi masalah tersebut, harus dibuat sebuah aplikasi mobile mapping yang dapat mentransfer data sekecil mungkin.
Didalam penelitian ini, dicoba untuk dibuat sebuah server pemetaan yang memanfaatkan teknologi SVGT dan XML. Kedua format data tersebut digunakan untuk menghasilkan data sekecil mungkin agar dapat menghemat biaya komunikasi antara klien dan server. Pada akhirnya, aplikasi yang dibangun akan menjadi sebuah server yang memiliki klien berupa handheld / mobile device.
Aplikasi ini dibangun dengan bahasa pemrograman PHP dan memanfaatkan database PostgreSQL beserta ekstensi PostGIS-nya pada sisi server dan J2ME (Java 2 Micro Edition) pada sisi mobile client. Aplikasi yang telah dibangun mampu untuk menampung peta jalan dari sebuah daerah, menampilkannya dalam format SVGT kepada klien, serta mencari rute terpendek antara dua buah jalan dengan menggunakan algoritma Floyd-Warshall. Mobile device sebagai client mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu download map dengan format SVGT dari server, menyimpan map ke dalam record store, menampilkan map dan juga melakukan fungsi pan dan zoom terhadap map. Fungsi lainnya adalah searching atau mencari titik tertentu pada map sesuai dengan permintaan user, request path ke server untuk mendapatkan jalur terpendek antara dua titik, dan set mark atau menyimpan titik-titik pada peta yang telah diberi tanda oleh user.
Keyword : PHP, PostgreSQL, SVGT, Mobile Mapping, Web Map Services, J2ME, Java 2 Micro Editon.